Copyright © 2021. Sekolah Al-Izhar Pondok Labu

Berita

MILENIAL VIS A VIS KEBHINEKAAN

Jakarta, 1 Oktober 2019 – Pancasila merupakan suatu anugrah tak ternilai dari Tuhan Yang Maha Kuasa kepada bangsa Indonesia. Rumusan Pancasila memang baru berusia 74 tahun. Namun sesungguhnya kandungan nilai-nilai Pancasila sudah ada tertanam dan tercermin dalam perilaku keseharian masyarakat Indonesia sejak jauh sebelumnya. Sejak dulu bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa berTuhan dan berbudaya, bangsa yang ramah dan rendah hati, bangsa yang senang membantu dan bergotong-royong.

Perguruan Islam Al-Izhar Pondok Labu melaksanakan upacara memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Upacara ini diikuti oleh seluruh murid SD hingga SMA, guru, karyawan, dan orang tua murid. Upacara peringatan Kesaktian Pancasila ditutup dengan  penampilan mini drama yang dimainkan oleh perwakilan murid dari SD-SMA dengan judul “Kebangkitan” karya Salma, murid kelas XI SMA Al-Izhar yang memberi pesan bahwa Pancasila sebagai penjaga keutuhan bangsa.

Ir. Tato Hendarto, M.Psi.T sebagai pembina upacara Kesaktian Pancasila menyampaikan Kehidupan berbangsa dan bernegara kita, selalu mengalami tantangan. Ada pandangan dan tindakan yang selalu mengancamnya. Ada sikap tidak toleran yang ingin mengusung ideologi lain selain Pancasila. Semua itu diperparah oleh penyalahgunaan media sosial dengan penyebaran informasi sesat, serta ujaran kebencian yang tidak sesuai dengan bangsa kita. Lantas, bagaimana strategi yang perlu dipersiapkan oleh Generasi Millenial untuk “vis-a-vis” (berhadap-hadapan) dengan kebhinnekaan?

1. Keteladanan (role model) Percayalah generasi muda, kita bisa menjadi teladan, anda bisa menjadi teladan! Sekurang-kurangnya untuk lingkungan sekitar kita, baik sesama teman (peer group), keluarga, sekolah maupun lingkungan yang lebih luas.

2. Berlaku inklusif (terbuka) Tidak hanya dalam bentuk pikiran namun juga dalam tindakan. Kalian bisa menjadi kontributor bagi lingkungan terdekat dengan memberi ide-ide yang mendukung perilaku inklusif. serta siswa di Al Izhar menjadi agen toleransi. Misal, mampu menghargai pendapat meskipun beda.

3. Ketiga, bersosial media yang cermat. Membiasakan berkomunikasi di sosial media dengan baik. Selektif dan mencari klarifikasi kebenaran dalam merespon berita sangat penting, kita lakukan agar kita tak mudah tergiring opini atau terbawa emosi.

Terakhir, kita semua berharap bahwa Generasi Millenial sekarang mampu menjadi generasi yang rendah hati dan toleran dalam “vis-a-vis” dengan Kebhinnekaan. Rasa optimis itu mesti senantiasa dipupuk dan diikhtiarkan agar menjadi karakter baik bagi para millenial.

“Mari kita wujudkan peradaban di mana manusia saling mencintai, mengerti, dan saling menghidupi, karena persaudaraan dalam kemanusiaan adalah puncak dari persaudaraan yang akan dapat memperkokoh persatuan kebangsaan.”

Artikel oleh : Humas


Kategori


Ikuti Al-Izhar